Bambu untuk Mengurangi Karbon Dioksida
Siapa bilang bahwa investasi itu hanya sebatas Uang, Emas, Tabungan, Deposito, Forex, Option, Komoditi, dsb. Justru saat ini salah satu investasi yang lagi ngetrend adalah apa yang dalam istilah saya 'Green Investment'. Maksudnya adalah suatu investasi sekaligus suatu sumbangan terhadap alam ini.
Sudah berapa sering kita mendengan bahwa alam kita ini semakin menurun, meningkatnya emisi karbon, efek rumah kaca, iklim yang tidak teratur, isu energi bumi yang semakin menipis, suhu bumi yang nain, dan masih banyak lagi. Nah di tengah tengah isu semacam itu, ini saya menemukan salah satu investasi yang menarik yang mudah mudahan bisa memberikan inpsirasi dan alternatif dalam mengembangkan investasi dan sekaligus berkontribusi terhadap alam ini. Investasi tersebut adalah investasi BAMBU.
Berikut tulisan yang saya ambil dari Kompas:
Selasa, 2 Februari 2010 | 03:34 WIB
Jakarta, Kompas - Vegetasi bambu berdaya serap karbon dioksida tergolong paling besar, berbeda dengan jenis pohon lain karena bambu memiliki kemampuan fotosintesis efisien, yaitu menyerap kembali sebagian karbon dioksida yang dihasilkan.
Dalam pembahasan di Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini, penanaman bambu diupayakan masuk dalam program Alih Guna Lahan dan Kehutanan (LULUCF), serta Reduksi Emisi dari Perusakan Hutan dan Degradasi Lahan (REDD).
”Dunia tidak akan bisa menolak bambu dengan ekolabel karena bambu yang tidak dipanen atau dimanfaatkan justru akan membusuk di alam dan melepaskan emisi,” kata Marc Peeters, salah satu penanam modal usaha pembibitan bambu satu-satunya di Indonesia dengan teknologi kultur jaringan dari Belgia, Senin (1/2) di Jakarta.
Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja telah menyampaikan gagasannya kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta untuk menghidupkan kembali Rencana Aksi Bambu Nasional. Kebijakan itu dikeluarkan Sarwono saat menjabat Menteri Lingkungan Hidup periode 1996-1997.
Peneliti bambu dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Hutan dan Konservasi Alam pada Badan Litbang Kehutanan di Departemen Kehutanan Sutiyono menjelaskan, fotosintesis bambu memiliki mekanisme C4, sedangkan pohon jenis lainnya C3. Artinya, fotosintesis bambu lebih efisien.
Peeters mengatakan, apresiasi dunia terhadap bambu kini meningkat, seperti di Bandara Barajas, Madrid, Spanyol, yang menggunakan bambu untuk langit-langit gedungnya.(NAW)
Leave a Response
Entries(RSS)